Mengintip Perjuangan Calon TKW-TKI di Asrama Penampungan PJTKI

BOS RINGO - Mengintip Perjuangan Calon TKW-TKI di Asrama Penampungan PJTKI. Tulisan ini berdasarkan pengalaman seorang Wanita yang pernah menjadi penghuni Asrama Penampungan PJTKI. Tulisan ini sudah dipublikasikan di Kompasiana.com 12 September 2014. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai kisanya, silahkan simak di bawah ini.

Mengintip Perjuangan Calon TKW-TKI di Asrama Penampungan PJTKI
Ilustrasi www.detik.com/kompasiana.com

Mengintip Perjuangan Calon TKW-TKI di Asrama Penampungan PJTKI

Melihat berita penggerebekan asarama PJTKI atau BLK di TVone beberapa hari lalu, sebenarnya yang saya tahu legal dan ilegal tempatnya gak jauh beda, sama-sama tumpang tindih.

Di asrama yang digerebek oleh pemerintah isinya cuma 302 orang katanya, padahal yang lebih banyak dari itu juga banyak, contohnya asrama yang pernah saya huni, dengan Tujuan Hongkong-Singapura-Malaysia dan Taiwan. Meskipun terbilang besar, rapi dan bersih, namun permasalahan mandi, makan, dan tidur tak begitu jauh berbeda dengan asrama yang digerebek beberapa waktu lalu.

• Mandi
Mereka bercerita kalau mandi harus antri, dan kami pun dulu juga sama bahkan mandi itu bersama-sama satu kamar mandi bisa di isi oleh 20 sampai 30 orang bahkan lebih, bercampur dengan yang buang air dan sebagainya.

• Makan
Waktu makan harus antri!. Sama saja legal dan ilegal kalau makan tetap harus antri di mana lauknya paling mewah adalah sayap ayam dan telur dadar itu pun satu minggu sekali,

• Tidur
Lalu bagaimana dengan tidur? Ini pun tak jauh berbeda tidur selalu tumpang tindih apalagi kalau baru masuk banyak calon TKI dan tidak ada penerbangan, tambahan lagi di asrama tersebut banyak yang kesurupan, banyak binatang seperti kutu dan lain-lain.

• Mencuci Pakaian
Mencuci pakaian harus siapa cepat dia dapat tempat jemuran karena tempat jemuran terbatas, kadang jemuran milik kita banyak yang hilang, sampai-sampai ke pakaian dalam pun hilang, saya pribadi jujur kehilangan pakaian bukan cuma sekali dua kali tapi sudah berulang kali selama 3 bulan 10 hari di dalam asrama tersebut, tapi untungnya selama dua minggu saya dipekerjakan sementara ke rumah seorang pejabat Kemenkumham di jalan Denpasar Raya, Kuningan, Jakarta. Dan selama itu tak begitu merasa terlalu tertekan dan ada sedikit ruang napas lega menghirup dunia luar.

• Belanja
Selama di dalam asrama, calon TKI tak boleh keluar asrama walau hanya untuk berbelanja, karena sudah diadakan kantin di dalam asrama walau harganya jauh beda (lebih mahal dua kali lipat) dengan di luaran sana, bahkan kalau lagi pas ada jadwal keluar seperti mengurus passport atau Medical Check Up, calon TKI tidak boleh bawa uang lebih dari 20.000 Rupiah, barang siapa yang ketahuan belanja lebih dari itu maka Name Tag akan diambil, lalu esoknya dihukum membersihkan kamar mandi atau lainnya. Bahkan di asrama sebelumnya, jika mau belanja barang kebutuhan, sudah seperti layaknya di dalam penjara, karena sama sekali tak boleh keluar, dan para calon TKI membeli makanan seperti bakso atau apa saja dari balik pagar yang terlihat cuma tangan dan barang belanjaannya saja, karena semuanya dikelilingi oleh pagar dan kawat duri agar kami tak kabur.

• Komunikasi
Sebelum calon TKI masuk ke dalam asarama, setelah proses pendaftaran, semua barang kami diacak-acak alias diperiksa karena takut ada yang bawa jimat atau apa, bahkan alat komunikasi (hp) kami semua dirampas tak boleh ada yang bawa hp termasuk hari Sabtu dan Minggu, jika ingin menghubungi keluarga sanak saudara maka sudah diadakan wartel, dan tentu tarifnya pun jauh dengan wartel yang di luaran sana.

Tak ada calon TKI yang mau menelepon sama dengan atau lebih dari 30 menit, karena pasti harganya jauh lebih besar, sedangkan jika menerima telepon dari keluarga hanya Sabtu dan Minggu saja itu pun gantian dan waktunya dibatasi hanya 5 menit jika saya tak salah mengingat.

Calon TKI hanya boleh ditengok oleh sanak saudaranya hanya pada hari Sabtu sore atau Minggu dan itu pun tak boleh lewat waktu yang telah ditetapkan oleh petugas, yaitu mulai dari pukul 8 pagi sampai pukul 5 sore, jika setelah pukul 5 sore masih ada yang datang maka tamu tersebut akan diusir begitu saja dan disuruh kembali minggu depan, kadang kasihan kepada pembesuk yang datangnya dari jauh seperti Jawa Tengah atau Jawa Timur atau bahkan ada yang dari Sumatera, tapi waktu saya di dalam asrama tidak pernah dibesuk orang tua maupun saudara karena waktu saya pergi dan niat kerja ke luar negeri memang tak ada anggota keluarga yang mengetahui, segala sesuatu saya urus sendiri, alias tidak mau menyusahkan siapa pun.

• Piket
Bagian piket tak boleh ada yang bolos sekalipun sedang demam. Terkadang ada teman satu asrama yang pura-pura sakit agar masuk ruang UKS, sehingga tidak dapat piket atau belajar di dalam kelas. Jika piket ada kesalahan maka ibu asramanya bakalan ngamuk-ngamuk dan merasa paling berkuasa sejagat asrama! Belum lagi para satpamnya yang galak dan garang, tapi kalau dah disogok sejumlah uang mereka pun diam dan berlaku baik dan seolah tak pernah terjadi apa pun.

Asrama di atas sudah bisa dikategorikan asrama besar, legal, dan juga bersih. Sedangkan asrama-asrama sebelumnya, keadaannya lebih parah, apalagi asrama yang memberangkatkan ke Timur Tengah, bukan cuma tumpang tindih, tapi benar-benar kotor dan tak teratur, sedangkan pegawainya biasanya cuma bisa marahin calon TKI setelah itu ada saja begini dan begitunya.

• Belajar
Belajar bahasa dan latihan kerja biasanya akan dibagi waktu, namun akan selalu diutamakan dalam bahasa. Yang baru masuk satu atau dua minggu akan masuk kelas pertama, jika bahasa sudah mulai lancar maka akan naik kelas menjadi kelas dua, setelah itu kami dilatih terus-menerus sampai kami terbang nan jauh ke luar negeri sana. Pembelajaran yang diajarkan sebenarnya tidak sama dengan apa yang dikerjakan di rumah majikan, masak, menggunakan mesin cuci, sampai ke bahasa juga banyak yang salah, malah lebih cepat bisanya ketika berkomunikasi langsung dengan sang majikan.

Jadi jadwal sehari-hari di asrama bangun mulai dari shubuh, mandi, senam, sarapan, belajar sampai pukul 12, makan siang, ibadah, dan kemudian belajar lagi sampai ibadah sore, kemudian mandi sore serta mencuci pakaian, kemudian makan, ibadah malam, dan kembali belajar sampai pukul 9 malam, setelah itu absen karena takut ada yang kabur. Dan terakhir tidur. Demikian setiap harinya sampai tiba waktu pemberangkatan ke negara tujuan.

Rasa sedikit lega baru bisa dirasakan setelah ada jadwal penerbangan, walau harus memikirkan episode menghadapi watak majikan yang entah bagaimana? Setelah mendapat majikan yang baik, maka beribu syukur dipanjatkan, dan rasa ingin kembali ke asrama itu telah terkubur dalam-dalam, dan masih untungnya proses yang yang saya alami cuma 3 Bulan 10 Hari. Sedangkan teman-teman lainnya sampai ada yang 7 bulan bahkan hingga 1 tahun.

Buat teman-teman yang sudah betah bekerja di luar negeri dan mendapatkan majikan baik, ada baiknya tak perlu neko-neko dan jalani dengan baik sampai kalian berhasil dan bisa mewujudkan apa yang kamu impikan, karena di dalam asrama itu tidak mengenakan, walau saya tahu, tak semua asrama begitu, tapi rata-rata memang seperti itu. [Dara Jabar/Kompasiana.com/BRB]

Sumber: Kompasiana.com

0 Response to "Mengintip Perjuangan Calon TKW-TKI di Asrama Penampungan PJTKI"

Post a Comment

Thank you for your comment, I hope you get something from the presentation of this blog.

Tinggalkan Jejak Bos-Bos di Kolom Komentar. Biar Kita Saling Berbagi Pengalaman